Tidak pernah terpikirkan akan sampai seperti ini. Padahal sudah sekian lama digembar-gemborkan seruan untuk menjaga keberadaan "nya", alam. Tapi tetap di biarkan saja. Sampai akhir "dia" ingin bernyanyi untuk kita. Apa supaya kita tahu keberadaanya yang mana kita berpijak pada tanah "nya". Lalu sampai kapan "dia" akan selesai bernyanyi?
Manusia hanya mengira-ngira. Mungkin esok. Mungkin juga lusa. Mungkin juga beberapa bulan lagi atau sampai "dia" lelah bernyanyi.
Suara "nya" memanaskan volum bumi dan meretakan tanah manusia. Seakan lagu-lagu rock dilantunkan. Syairnya adalah manusia dengan ucapan ampun. Tautan air mata dan tangis. Dentuman jantung dalam takut dan putus asa. Serapah usaha-usaha yang dibangun tanpa melihat bisikan alam. Lirik yang indah untuk diketahui dan dimengerti.
Esok dengan harapan biar datang lebih cepat atau mungkin detik ini. Biar lirik-lirik kecil dapat bermain lagi, biar lirik-lirik kecil dapat berlarian di tanah lapang, biar lirik-lirik kecil dapat tersenyum.
Tetabuhan api merunut instrumen agar keindahannya senada. Lalu bunyi apalagi yang bersuara, setelah gemericik air sudah berdenting di tanah rencong? Setelah tarian di rana minang? Setelah gendhing kraton tertabuh bersama gong?
Mungkinkah ada perhentian untuk menarik nafas? Akankah lagunya memerlukan nafas yang panjang sebagai perhentian? Bagaimana dengan coda dan bridge? Berharap nyanyian ini diakhiri. Setelah semua syair dinyanyikan.Dan berhenti dengan aransemen yang indah.
No comments:
Post a Comment